Ana Catur Mungkur

Rabu, 01 April 2009
Ana catur mungkur arti lugasnya adalah "ada pembicaraan membelakangi". Secara kiasan ungkapan itu dimaksudkan untuk menggambarkan yang menyangkut keburukan atau kelemahan pihak orang lain. Catur artinya ngrasani eleking liyan (membicarakan keburukan orang lain) dengan maksud menjatuhkan atau menghina orang tersebut. Tindakan ngrasani (membicarakan, atau mempergunjingkan) harus dipandang sebagai perbuatan yang tidak baik karena dapat menimbulkan sakit hati pada diri orang yang dirasani (pihak yang dibicarakan keburukannya). Pada umumnya, nyatur atau ngrasani (membicarakan) orang lain itu mengacu pada sudut kelemahannya atau sisi negatifnya, dan jarang membicarakan dari sudut kebaikannya karena tujuannya memang untuk menjatuhkan martabat orang yang dirasani atau dipergunjingkan. Ungkapan ini sejajar dan selaras dengan nasihat aja metani alaning liyan (jangan mencari-cari keburukan orang lain).

Seseorang lazimnya lebih senang mencela orang lain. Ia enggan dan tidak mau mengerti tentang kesalahan sendiri. Tindakan itu sangat negatif karena dapat menimbulkan perselisihan. Pertama, hampir semua orang tidak suka dipergunjingkan keburukannya. Orang cenderung akan kecewa, sakit hati, atau bahkan marah sewaktu orang lain ngrasani keburukan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita yang secara norma hukum dan sosial tidak ada kaitannya dengan "sang penggunjing".
Kedua, tindakan ngrasani sebagai tindakan tidak transparan. Sang penggunjing dapat melihat keburukan orang lain, tapi tidak berani mengatakan keburukan diri sendiri. Lebih jauh, seseorang cenderung tidak konsekuen, dapat atau mau melihat kesalahan orang lain sekecil apapun tetapi tidak mau melihat kesalahan diri sendiri walaupun kesalahan itu sangat besar. Sikap dan perilaku nyatur (mempergunjingkan) kesalahan orang itu ibarat gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Para pendahulu Jawa telah memberikan wejangan atau nasihat agar seseorang tidak mempergunjingkan kesalahan orang lain. Ia lebih baik mengoreksi diri atau kesalahannya sendiri dengan harapan dapat memperbaiki perbuatannya. Akan tetapi, hal itu sudah pasti sulit dilakukan jika tidak didasarkan pada sikap lembah manah (rendah hati). Nasihat atau wejangan tersebut disapaikan dengan ungkapan wong ikut ora bisa ngilo githoke dhewe (seseorang itu tidak dapat berkaca pada punggung sendiri). Maksudnya, seseorang itu tidak dapat melihat kesalahan diri sendiri, dan justru pandai melihat kesalahan orang lain. Cermin adlaah kaca yang dapat menampakkan sesuatu yang ada di depannya. Apa yang terlihat di cermin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Namun tidak mungkin orang bercermin pada punggung sendiri. Punggung jelas bukan cermin sehingga tidak mampu memperlihatkan kesalahan yang telah diperbuat pada waktu sebelumnya.

Ungkapan ana catur mungkur menganjurkan kita untuk tidak membicarkan kelemahan orang lain. Jika ada orang lain yang mengaak dirinya untuk membicarakan kelemahan orang lain, jika ada orang yang sengaja menyeret kita untuk mempermasalahkan kelemahan orang lain, segeralah untuk menghindar. Segeralah untuk mungkur (menghindar) dari pembicaraan tersebut.

Read more

Ajining Dhiri Ana Lathi, Ajining Raga Ana Busana

Senin, 16 Februari 2009

Masyarakat Jawa sangaat menekankan pentingnya etika atau sopan santun dalam pergaulan. Oleh sebab itu, harga diri atau prestise seseorang juga ditentukan oleh penampilannya, baik dalam bentuk perilaku atau tampilan fisik. Penampilan perilaku berupa pakaian yang dikenakannya. Orang Jawa memberikan peringatan agar seseorang dapat menjaga penampilan itu, penampilan lisan/ucapan dan tampilan berbusana. Ungkapan itu berbunyi ajining dhiri ana lathi, ajining raga ana busana (harga diri seseorang terletak pada bibir dan harga badan ada di pakaian). Yang dimaksud denga ‘bibir’ disini adalah ucapan atau kata-katanya. Nasihat itu dapat memenuhi harapan jika dilandasi dengan bertindak samadya (wajar). Mari kita urai ungkapan itu satu per satu.



Ajining dhiri ana lathi (harga diri terletak pada ucapannya). Ucapan atau lisan memegang peranan penting bagi seseorang karena diyakini harga diri seseorang ditentukan oleh gerak bibir (ucapan atau lisan), seseorang harus berhati-hati menjaga lisannya. Kita harus benar-benar mempertimbangkan secara cermat akibat yang dapat ditimbulkan oleh ucapan itu. Kita perlu bertanya apakah ucapan itu mendatangkan persoalan bagi diri sendiri atau merugikan dan menyakitkan orang lain. Ucapan seseorang haruslah disadari sebagai cerminan pikiran dan pribadi seseorang. Dengan demikian, terlebih lagi jika ucapan itu berhubungan dengan kepentingan dengan orang lain. Orang lain akan menaruh kepercayaan kepada diri ita jika kita dapat memgang ucapan yang telah dinyatakannya. Seseorang yang tidak mampu menepati ucapan atau janjinya pasti tidak akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Semakin sering mengingkari ucapan atau janjinya, semakin cepat orang kehilangan penghargaan dari orang lain. Sebaliknya, orang yang dapat menjaga lisan atau ucapannya, akan menambah wibawa karena orang lain percaya apa yang dinyatakan adalah kebenaran yang selalu ditepainya.

Dalam nasihat yang lain, kita perlu menghindarkan diri dari predikat sebagai orang yang omongane mencla-mencle (bicaranya plin-plan), yakni orang yang tidak dapat dipercaya tutur katanya. Dalam masyarakat Jawa, julukan orang yang tidak dapat dipercaya tutur katanya dikenal dalam ungkapan esuk dhele sore tempe (padi kedelai, sore tempe). Maksudnya sering berubah-ubah pendirian dan kata-katanya. Orang yang tidak dapat dipegang ucapannya juga dinilai negatif dengan sebutan lunyu ilate (licin lidahnya), artinya selalu berubah-ubah ucapannya. Orang yang esuk dhele sore tempe atau lunyu ilate pasti kehilangan harga dirinya karena orang lain tidak mudah percyaa kepadanya. Ia memang tidak dapat dipercaya.

Sikap njaga lathi (menjaga ucapan) itu semakin penting pada orang-orang yang mendapat amanah sebagai panutan atau pemimpin. Jika pemimpin tidak dapat dipercaya ucapannya,masyarakat yang menajdi bawahannya akan mengalami kebingungan. Seorang pemimpin seharusnya berbicara konsisten dan benar sehingga tidak menimbulkan keresahan di kalangan bawahan. Salah satu ucapan yang dapat menimbulkan citra harga diri adalah harus berdasarkan kebenaran. Sehubungan dengan itu, orang Jawa memiliki ajaran agar bila mengatakan sesuatu hendaknya dilandasi alasan atau dasar yang akurat, dan tidak diharapkan berbicara asal bicara. Sikap semacam itu sepertii dituntut dalam ungkapan omongane waton, aja waton ngomong (bicaralah dengan dasar, jangan asal bicara). Omongane nganggo waton (berbicara ddengan dasar yang tepat) dapat mengarah pada kebaikan dan kebenaran, sedangkan waton ngomong (asal bicara) dapat menciptakan keresahan. Berbicara yang tanpa waton (dasar) dan waton sulaya (asal berbeda) dengan orang lain. Sikap waton sulaya justru menciptakan penilaian negatif pada orang itu yang mengakibatkan berkurangnya penghargaan orang lain kepadanya.

Ajining raga ing busana (harga badan pada pakaian). Kita dianjurkan untuk hidup samadya (sedang-sedang saja), tidak berlebihan, misalnya dalam bicara dan dalam berpakaian. Hal itu sebagai cermin sikap hidup sederhana. Akan tetapi, kita juga tidak dapat berpakaian sesuka hati. Semua itu harus sesuai dengan posisi dan kondisi yang sedang berlangsung. Walaupun tidak ada larangan dalam berpakaian, seseorang harus memahami dalam posisi apa berpakaian, dan kondisi apa ia berpakaian, dan dalam kepentingan apa ia berbusana. Kita harus mengetahui setiap kondisi dan kesempatan serta kepentingan memiliki “tradisi” berbusana yang berbeda. Untuk itu, seseorang harus menyesuaikan dengan adat atau tradisi tersebut. Paket kata, dalam berbusana seseorang harus mengetahui empan-empan (situasi dan tempat), dan bukan tidak asal berpakaian atau waton bisa tuku (asal mampu membeli).

Seseorang harus mampu menempatkan busana sesuai kepentingannya. Pakaian orang melayat pasti berbeda dengan pakaian kerja. Pakaian saat resepsi perkawian, pasti berbeda dengan pakaian kenduri tasyakuran, dan sebagainya. Dengan demikian, sangat tidak laras jika kebiasaan berpakaian melayat dipaki pada saat bekerja atau sebaliknya. Pakaian anak muda jelas berbeda debgan pakaian orang yang telah berumur atau orang yang sudah tua. Pakaian santai di rumah juga berbeda dengan pakaian ibadah atau yang lainnya. Jika tak mampu menyelaraskan dengan situasi dan kondisi, orang lain akan menilai cara berpakaianya tidak tepat sehingga mendapat nilai negatif. Pakaian yang baik (bersih rapi) yang diselaraskan dengan situasi dan kondisi (empan papan) akan menciptakan orang lain menilai positif pada si pemakai. Sebaliknya, pakaian yang waton nganggo (asal memakai) akan meyebabkan kurangnya penghargaan orang lain kepada si pemakainya. Dari pandangan itu semakin jelaslah pandangan ajining raga ana ing busana (harga badan sesorang terletak pada pakainnya). Seorang wanita baik-baik yang mengenakan pakaian minim atau bikini sewaktu acara-cara resmi akan dinilai sebagai bentuk pakaian yang ora trep (tidak tepat) dan “ditertawakan” oleh orang lain. Kekeliruan dalam memilih dan mengenakan pakaian menyebabkan orang lain menilai bahwa si pemakainya tidak mengerti tatacara berpakaian. Akhirnya, pakaian yang tidak pantas akan menimbulkan penilaian negatif pada si pemakai yang dapat mengurangi harga diri atau kehormatan si pemakai.


Read more

Aja Rumangsa Bisa, Nanging Bisaa Rumangsa

Jumat, 13 Februari 2009
Ungkapan aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa (jangan merasa bisa, tetapai bisalah merasa) memiliki makna yang sangat strategis dan mendalam. Ungkapan ini bernada nasihat agar seseorang tumbuh menjadi sosok yang rendah hati, sebaliknya tidak tumbuh menjadi sosok yang tinggi hati atau somboong. Dalam kehidupan masyarakat Jawa tradisional, banyak ditemukan unen-unen atau wewarah (nasihat) agar seseorang tetap dalam koridor pribadi yang lembah manah (rendah hati, dan rendah hati tidak berarti rendah diri) dan sebaliknya kita mengangggap rendah pihak lain. Dalam ajaran Jawa, seseorang lebih ditekankan untuk dapat melakukan koreksi ke dalam sehingga tidak terdorong untuk “menghujat” atau “merendahkan” orang lain.

Dalam berbagai kesempatan, seseorang harus tetap bersikap untuk menahan diri dan tidak terdorong untuk menonjolkan dirinya sendiri (tidka dibenarkan utnuk bersikap unjuk gigi). Terlebih lagi, dalam tatanan sosial-kemasyarakatan Jawa, tidak pada tempatnya seseorang melakukan tindakan yang dapat merendahkan atau memojokkan pihak lain. Pendek kata, sangat tidak etis jika seseorang mempermalukan orang lain di hadapan umum atau di hadapan publik, baik melalui ucapan maupun tindakan.

Tampaknya ungkapan aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa semakin jauh dari pergaulan dewasa ini. Era keterbukaan dan demokrasi yang melanda masyarakat dari kota metropolitan hingga pelosok desa telah mengubah cara berpikir masyarakat, termasuk masyarakat Jawa, sehingga muncul arogansi yang ujung-ujungnya memunculkan tindakan saling melemahkan atau memojokkan satu dengan yang lain, baik pada bidang sosial, ekonomi, politik, maupun hukum. Slah satu buktinya, pergantian pimpinan pemerintahan (mulai dari presiden, gubernur, hingga lurah di pedesaan) lebih sering diawali dengan dorongan untuk saling menjatuhkan (istilah Jawanya me­-­lengser-kan) melalui tindkan “mengkritik”, “menghujat”, dan sebagainya. Situasi saling menjatuhkan tersebut diperparah dengan lahirnya budaya kritik yang disampaikan secara tidak berbudaya atau kritik yang disarkan pada rasa pamrih atau meri (pamrih atau iri hati), bukan kritik konstruktif (kritik membangun) yang berorientasi pada kepentingan masyarakat dan bangsa. Kondisi itu semakin menjauhkan masyarakat dari cara berpikir Jawa yang bersifat sinamudana (memakai simbol-simbol) berupa ucapan, gerak-gerik tubuh dan lain lain atau tidak langsung dan berubah kepada cara berpikir yang transparan atau melok (langsung).

Dalam hubungan seperti ini banyak orang terjebak pada perilaku rumangsa bisa (merasa bisa atau mampu) yang mengakibatkan orang tersebut menilai rendah (bodoh, tidak cakap dan sejumlah penilaian negatif lainnya) terhadap pihak lain. Banyak lurah desa yang didemo dan dijatuhkan karena dinilai tidak mampu menjalankan kewajibannya. Akan tetapi, anehnya pengganti mereka yang berasal dari pihak yang semula menghujat pejabat yang di-lengser­-kan itu juga tidak mampu mengemban amanat memegang jabatan yang digantikannya. Bahkan, justru kebobrokan yang lebih parah terjadi pada saat pemimpin itu memegang jabatan tertentu. Kondisi ini mencerminkan bahwa orang-orang yang semula mengkritik atau menghujat itu memiliki watak rumangsa bisa(merasa bisa) tetapi sesungguhnya mereka itu terbukti ora bisa (tidak bisa). Mereka sama sekali tidak memiliki sikap bisa rumangsa (bisa merasa) yang hakekatnya adalah sikap koreksi pada kemampuan diri sendiri sehingga dapat mendorong seseorang berperilaku arif dan bijaksana (tidak hanya pandai “mencela” atau “menghujat” orang lain karena menyadari bahwa dirinya juga memilki banyak keterbatasan).

Sikap bisa rumangsa akan membawa pengaruh positif, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Pertama, bagi diri sendiri, ia tidak terjerumus pada euforia, budaya suka mencela yang sebenarnya dirinya memiliki pamrih pribadi, pamrih kelompok, atau pamrih golongan. Kedua, ia selalu terdorong untuk selalu berbuat yang melegakan atau meng-enak-kan hati dan tenteram bagi pergaulan sosial.


Read more

Aja Nggege Mangsa

Kamis, 12 Februari 2009

Ungkapan aja nggege mangsa terdiri dari kata aja (jangan), nggege (mempercepat atau mendahului) dan mangsa (waktu). Secara eksplisit, ungkapan aja nggege mangsa berarti ‘jangan mendahului waktu’. Dalam etika dan filsafat Jawa, ungkapan itu memiliki makna yang lebih dalam. Pemaknaanya terkait erat dengan sikap hidup dan kaitan jati dir manusia sebagai individu, sosial dan umat ciptaan Tuhan.



Ungkapan aja nggege mangsa berisi nasihat agar dalam upaya mencapai maksud atau cita-cita tertentu, seseorang harus mampu mengendalikan dirinya. Demi suatu keinginan sesorang dianjurkan untuk tidak melakukan kecurangan. Tanpa didasari oleh pengendalian diri dan keyakinan bahwa segalanya akan ditentukan oleh Tuhan, seseorang seringkali tergelincir pada sikap nggege mangsa (mendahului waktu). Dari keinginan yang tidak terkendali itu, seseorang bisa terperosok pada tindakan negatif asal tujuan atau keinginannya tercapai. Untuk menghindar dari hal tersbut, maka dalam berusaha kita perlu menyeimbangkan antara semangat dengan sikap pasrah, yang dilandasi sikap hidup samadya (sedang, sewajarnya) dan tidak tampak ngaya (terlalu memaksa diri). Untuk dapat terhindar dari sikap nggege mangsa (terburu nafsu dalam mencapai sesuatu), dibutuhkan kejernihan dalam berpikir, kedewasaan, dan kemampuan untuk mengarahkan tindakan demi tujuan akhir, yakni mencari ridha Tuhan sembari tetap memperhatikan kepentingan orang lain.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, tindakan nggege mangsa cenderung mendorong seseorang melakukan tindakan negatif. Pada era sekarang ini, nggege mangsa hampir identik dengan mengambil jalan pintas dalam konotasi negatif. Dengan mengambil jalan pintas, memiliki kecenderungan untuk melanggar prosedur normatif, menimbulkan sikap tidak jujur, dan kemungkinan besar akan merugikan pihak lain. Akibat dari tindakan yang nggege mangsa dapat bermuara pada munculnya kecemburuan sosial dan membangun perilaku tidak jujur pada masyarakat. Oleh sebab itu, budaya Jawa mengajarkan agar seseorang tidak perlu melakukan tindakan yang mengarah pada nggege mangsa. Untuk sampai pada sikap hidup tersebut, seseorang perlu berpegang pada ajaran Jawa yen pesthine mesthi kelakon (jika telah takdir Tuhan pasti terlaksanan). Dalam mencapai suatu keinginan atau cita-cita, seseorang dianjurkan untuk mbudidaya linambaran nyenyuwun marang Gusti (berusaha sambil memohon kepada Tuhan). Jika dalam mencapai cita-cita dilandasi oleh permohonan pada Tuhan, pasti tujuan akhir dari cita-cita tersebut adalah mencari ridha Tuhan. Dalam alur pikiran semacam itu, seseorang akan terhindar dari sikap egois dan sikap menghalalkan segala cara yang cenderung menjurus kepada pelanggaran norma dan merugikan pihak lain.


Read more

Aja Metani Alaning Liyan

Selasa, 10 Februari 2009

Ungkapan aja metani alaning liyan berisi nasihat yang berorientasi pada upaya untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam pergaulan sosial. Pendek kata, agar terjadi situasi hidup bermasyarakat yang saling percaya, saling menghormati, saling menghargai demi terciptanya lingkungan sosial-kemasyarakatan yang harmonis. Kata metani dalam ungkapan tersebut terbentuk dari kata dasar bahasa Jawa petan (cari kutu rambut), dan metani berati (mencari kutu rambut). Petan yang berubah menjadi metani sebagai bentuk aktif, yang berarti mencari kutu rambut. Kata alaning (jeleknya) terbentuk dari kata ala (jelek) dan mendapat akhiran ning. Kata liyan (lain, pihak lain) berasal dari kata dasar liya yang mendapat ahiran an lain, sehingga berarti lain atau orang lain.


Kutu rambut adalah hewan yang sangat kecil, sudah pasti hewan itu sulit didapatkan. Orang mencari kutu rambut memberi gambaran mencari sesuatu yang kecil di tengah-tengah rambut. Akan tetapi, pekerjaan yang sulit itupun tetap dilakukan karena tujuan akhirnya memang menemukan atau menangkap kutu rambt tersebut. Ungkapan ini adalah nasihat orang Jawa berupa perumpamaan. Kata metani dalam konteks ini memiliki arti sebagai ‘mencari-cari’, mencari sesuatu yang seharusnya tidak perlu dicari, atau mencari sesuatu yang sulit dicari. Kutu rambut merupakan lambang kesalahan orang lain. Oleh sebab itu, perumpamaan di atas berarti ‘jangan mencari-cari kesalahan orang lain’.

Orang yang mencari-cari kesalahan orang lain itu memiliki berbagai tujuan. Misalnya, pertama, untuk menyebarkan fitnah atas seseorang agar orang yang difitnah menjadi rusak nama baiknya. Kedua, sebagai bentuk pelampiasan rasa tidak percaya diri karena kalah dalam persaingan hidup (kalah pandai, kalah kaya, kalah terhormat dalam masyarakat, dan sebagainya). Jadi, upaya mencari-cari kesalahan itu didasarkan pada rasa iri hati atas keberhasilan dan kebaikan orang lain. Maksud lainnya, ketiga, adalah menutupi kelemahan diri sendiri dengan jalan menjelek-jelekkan orang lain, dengan harapan nama baiknya sendiri akan terangkat.

Orang-orang tua kita dulu pastilah memiliki latar belakang pemikiran yang arif dan bijak dalam memberikan nasehat terbut. Nasihat itu diarahkan untuk tetap menjaga hubungan bermasyarakat yang harmonis dan rukun. Tindakan mencari kesalahan orang lain jelas tidak disukai oleh pihak yang dicela. Jika tidak terkendali, tindakan tersebut akan berkembang menjadi fitnah. Suatu fitnah akan dapat menjurus kepada tindakan yang lebih jauh merugikan, misalnya pertengkaranm perselisihan, atau bahkan pembunuhan. Dalam konteks ini, sangatlah benar kata-kata bijak yang mengatakan bahwa fitnah lebih kejam atau lebih jahat daripada pembunuhan.

Tindakan mencari-cari kesalahan orang lain itu, jika tidak terkendali, akan menimbulkan fitnah yang berantai. Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain biasanya akan mengatakan kesalahan atau keburukan tersebut kepada orang lain. Dari sinilah hal buruk tersebut menyebar dan berkembang menjadi fitnah, dan selanjutnya terciptalah fitnah berantai. Jika sudah demikian, pastilah orang yang difitnah itu jatuh nama baiknya. Hal itulah yang dikehendaki oleh orang yang mencari-cari kesalahan orang lain. Ia baru merasa berhasil jika mampu mempengarhi semua orang untuk membenci orang yang dikatakan bersalah tadi. Pada tahap ini, terjadinya pertengkaran tinggal menunggu waktu saja. Pada umumnya, jika dilakukan klarifikasi pihak-pihak yang berada pada rantai fitnah akan menghindar dengan saling tuduh satu sama lain. Dalam masyarakat Jawa, orang yang memiliki “kesenangan” mencari-cari kesalahan orang lain disebut tumbak cucukan, artinya orang yang senang mengatkan keburukan orang lain. Dalam ungkapan lainnya perilaku ini disebut sebagai seneng adul-adul.

Berdasarkan hal tersebut, sesorang perlu menghindari tindakan mencari kesalahan oang lain. Alangkah baiknya jika kita berpikir positif terhadap orang lain, dengan keyakinan bahwa setiap orang memiliki sisi baik, dan hal baik ini jauh lebih bermanfaat bagi diri kita. Tidak ada seorangpun yang sempurna, setiap orang memiliki kelebihan dan tidak terhindar dari kekurangan. Sikap arif ini “tidak mencari keburukan orang lain” menjadi medium untuk mawas diri bahwa diri kita sendiri juga penuh dengan kekurangan. Mengapa harus mencari-cari kesalahan orang lain? Tidak ada orang yang senang jika kesalahannya disebarluaskan kepada orang lain, termasuk diri kita sendiri. Dlam konteks ini, perlu pula menyimak salah satu nasihat lainnya, yang berbunyi yen ora gelem dijiwit ya aja njiwit (jika tidak mau dicubit, ya jangan mencubit). Jika kita tidak mau difitnah, maka janganlah kita menfitnah oranglain.


Read more

Aja Cedhak Kebo Gupak

Senin, 09 Februari 2009

Dalam pandangan masyarakat Jawa, watak dan perbuatan atau kepribadian seseorang diperngaruhi oleh pergaulan atau akibat komunikasi dengan oran lain, Oleh sebab itu, orang Jawa memiliki pertimbangan yang sangat hati-hati dalam memilih teman pergaulan. Jika bergaul dengan orang yang berperilaku baik, kemungkinan besar dirinnya akan berkembang menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, jika bergaul dengan orang berperangai buruk atau jelek, seseorang cenderung tumbuh menjadi pribadi yang tidak baik. Secara gambling, jika bergaul dengan pencuri, perampok, pembunuh, koruptor, pemeras, pemberontak, dan sejenisnya, seseorang akan memiliki watak sebagai pencuri, perampok, pembunuh, koruptor, pemeras, pemberontak, dan sebagainya.



Sejalan dengan itu ungkapan witing tresna jalaran seka kulina pun memiliki relevansi dalam pembentukan perilaku seseorang akibat pergaulannya. Pada awalnya seseorang merasa kaku atau kikuk sewaktu bergaul dengan orang-orang berperangai buruk. Akan tetapi, lama kelamaan, ia akan terbiasa dan akhirnya, jadilah ia bagian yang tidak terpisahkan dengan orang-orang yang melakkan kejahatan. Disamping itu, seperti layaknya aruskejahatan, sesuatu yang buruk lebih mudah merasuk ke dalam pikiran seseorang. Dan, sudah lazim dan terbukti bahwa orang-orang yang melakukan tindak kejahatan itu memiliki ikaan yang sangat kuat. Oleh sebab itu, jika telah masuk dalam jaringan orang-orang “abnormal” (kelompok pelaku kejahatan), seseorang sulit melepaskan diri dan kembali ke jalur hidup yang “normal” (kebaikan).

Berdasarkan hal itu, perlukah seseorang memilih pergaulan hidup yang sebaik-baiknya. Jika memiliki orientasi untuk tumbuh dan berkembang kea rah perilaku yang baik “normal” (tidak melanggar norma etika, hukum, agama, sosial, dan kebangsaan), tidak ada pilihan lain kecuali mencari teman pergaulan orang-orang yang berperangai baik. Oleh sebab itu, orang-orang tua dan orang0orang arif tempo dulu menasihatkan dengan anjuran aja cedhak kebo gupak (jangan dekat kerbau kotor). Sebenarnya, ungkapan ini tidak hanya berfungsi sebagai anjuran, meainkan sebagai larangan yang terbukti dengan dipakainya kata aja (jangan). Kebo gupak (kerbau kotor) sebagai lmbang orang-orang berperangai buruk. Dengan demikian maksud larangan itu adalah kita jangan mendekati orang-orang berperngai buruk dengan harapan tidak akan tertulari keburukannya. Nasihat itu juga tertera dalam Serat Wulangreh karya Sunan Pkubuwana IV, sebagaimana dikutip berikut ini.

Yen wis tinitah wong agung,
Aja sirna nggunggung dhiri
Aja leket lan wong ala
Kang ala lakunireki
Nora wurung ngajak-ajak
Satemah anunulari
Yen wong anom opan wus tamtu
Manut marang kang ngadhepi
Yen kangngadhep akeh bangsat
Ora wurung bias juti
Yen kang ngadhep ke dhurjana
Nora wurung bias maling

Disamping itu ungkapan aja cedhak kebo gupak memiliki maksud yang sama dengan ungkapan yang lain, yakni aja cedhak kirik gudhigen
(jangan dekat anak anjing kudisan) dan aja cedhak celeng boloten (jangan dekat babi hutan boloten). Kirik gudhigen (anak anjing kudisan) sebagai lambang orang yang jahat. Celeng boloten adalah gambaran orang yang berperilaku kotor (bolot adala kotoran yang melekat pada tubuh).

Larangan dekat dengan celeng boloten dimaksudkan agar tidak tertular oleh perilaku kotor tersebut. Oleh karena itu, kita tidak oleh mendekati kirik gudhigen itu agar tidak tertular sehingga diri kita tidak menjadi gudhigen (kudisan).

Hikmah yan dapat dipetik dari ungkapan-ungkapan tersebut adalah perlunya berhati-hati dalam memilih teman pergaulan. Jika ingin memiliki perilaku yang baik, harus berkawan dngan orang aik. Jangan bergaul dengan orang-orang berperilaku buruk jika seseorang erharap memiliki watak yang baik, yakni watak yang lembah manah (rendah hati), tepa slira, perwira, dan memayu hayuning bawana (menjaga keselamatan dunia atau kehidupan) melalui tindakan memangun karyenak tyasing sasama (mengupayakan orang lain senag hatinya) karena tindakan dan lelabuhan (pengorbanan) kita. Seara simbolik, jika ingin memiliki watak yang bagus dan cantik aja cedhak kebo gupak (jangan dekat kebau kotor) atau aja cedhak kirik gudhigen (jangan dekat anak anjing kudisan). Siapa yang dekat dengan kerbau kotor aau kirik gudigen, pasti cepat atau lambat akan menjadi kotor, atau dirinya akan menjelma kebu gupak atau kirik gudhigen.


Read more

Alaq Tau

Sebuah ritual yang dilakukan warga Dayak Kenyah di Samarinda, Kalimantan Timur sebelum memulai masa tanam padi. Tradisi ini bertujuan untuk memohon petunjuk kepada Sang Pencipta dalam memilih waktu yang tepat untuk menanam padi. Ritual diawali pembacaan doa yang dilakukan tetua adat. Waktu yang tepat biasanya didasarkan pada bentuk koordinat tertentu dari matahari yang dibaca tetua adat. Kemudian, ritual ini dilanjutkan dengan sejumlah tarian yang berhubungan dengan kehidupan agraris warga seperti tari pangpagaq; tari udoq aban; dan tari anyam tali. Tari pangpagaq adalah tarian yang menggambarkan upaya menangkap binatang yang masuk ke areal pertanian, gerakannya melompat-lompat di antara kayu dengan rentak teratur seperti hendak menjebak binatang. Sedangkan tari udoq aban atau tarian topeng dimaksudkan untuk mengusir roh jahat dan hama padi menjelang musim panen tiba. Rangkaian tarian ditutup dengan tari anyam tali yang menggambarkan persatuan warga.

Sumber : melayuonline.com


Read more

Daftar Blog Saya

Tags