Langsung ke konten utama

Aja Nggege Mangsa

Ungkapan aja nggege mangsa terdiri dari kata aja (jangan), nggege (mempercepat atau mendahului) dan mangsa (waktu). Secara eksplisit, ungkapan aja nggege mangsa berarti ‘jangan mendahului waktu’. Dalam etika dan filsafat Jawa, ungkapan itu memiliki makna yang lebih dalam. Pemaknaanya terkait erat dengan sikap hidup dan kaitan jati dir manusia sebagai individu, sosial dan umat ciptaan Tuhan.



Ungkapan aja nggege mangsa berisi nasihat agar dalam upaya mencapai maksud atau cita-cita tertentu, seseorang harus mampu mengendalikan dirinya. Demi suatu keinginan sesorang dianjurkan untuk tidak melakukan kecurangan. Tanpa didasari oleh pengendalian diri dan keyakinan bahwa segalanya akan ditentukan oleh Tuhan, seseorang seringkali tergelincir pada sikap nggege mangsa (mendahului waktu). Dari keinginan yang tidak terkendali itu, seseorang bisa terperosok pada tindakan negatif asal tujuan atau keinginannya tercapai. Untuk menghindar dari hal tersbut, maka dalam berusaha kita perlu menyeimbangkan antara semangat dengan sikap pasrah, yang dilandasi sikap hidup samadya (sedang, sewajarnya) dan tidak tampak ngaya (terlalu memaksa diri). Untuk dapat terhindar dari sikap nggege mangsa (terburu nafsu dalam mencapai sesuatu), dibutuhkan kejernihan dalam berpikir, kedewasaan, dan kemampuan untuk mengarahkan tindakan demi tujuan akhir, yakni mencari ridha Tuhan sembari tetap memperhatikan kepentingan orang lain.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, tindakan nggege mangsa cenderung mendorong seseorang melakukan tindakan negatif. Pada era sekarang ini, nggege mangsa hampir identik dengan mengambil jalan pintas dalam konotasi negatif. Dengan mengambil jalan pintas, memiliki kecenderungan untuk melanggar prosedur normatif, menimbulkan sikap tidak jujur, dan kemungkinan besar akan merugikan pihak lain. Akibat dari tindakan yang nggege mangsa dapat bermuara pada munculnya kecemburuan sosial dan membangun perilaku tidak jujur pada masyarakat. Oleh sebab itu, budaya Jawa mengajarkan agar seseorang tidak perlu melakukan tindakan yang mengarah pada nggege mangsa. Untuk sampai pada sikap hidup tersebut, seseorang perlu berpegang pada ajaran Jawa yen pesthine mesthi kelakon (jika telah takdir Tuhan pasti terlaksanan). Dalam mencapai suatu keinginan atau cita-cita, seseorang dianjurkan untuk mbudidaya linambaran nyenyuwun marang Gusti (berusaha sambil memohon kepada Tuhan). Jika dalam mencapai cita-cita dilandasi oleh permohonan pada Tuhan, pasti tujuan akhir dari cita-cita tersebut adalah mencari ridha Tuhan. Dalam alur pikiran semacam itu, seseorang akan terhindar dari sikap egois dan sikap menghalalkan segala cara yang cenderung menjurus kepada pelanggaran norma dan merugikan pihak lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aja Metani Alaning Liyan

Ungkapan aja metani alaning liyan berisi nasihat yang berorientasi pada upaya untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam pergaulan sosial. Pendek kata, agar terjadi situasi hidup bermasyarakat yang saling percaya, saling menghormati, saling menghargai demi terciptanya lingkungan sosial-kemasyarakatan yang harmonis. Kata metani dalam ungkapan tersebut terbentuk dari kata dasar bahasa Jawa petan (cari kutu rambut), dan metani berati (mencari kutu rambut). Petan yang berubah menjadi metani sebagai bentuk aktif, yang berarti mencari kutu rambut. Kata alaning (jeleknya) terbentuk dari kata ala (jelek) dan mendapat akhiran ning . Kata liyan (lain, pihak lain) berasal dari kata dasar liya yang mendapat ahiran an lain, sehingga berarti lain atau orang lain. Kutu rambut adalah hewan yang sangat kecil, sudah pasti hewan itu sulit didapatkan. Orang mencari kutu rambut memberi gambaran mencari sesuatu yang kecil di tengah-tengah rambut. Akan tetapi, pekerjaan yang sulit itupu...

Ajining Dhiri Ana Lathi, Ajining Raga Ana Busana

Masyarakat Jawa sangaat menekankan pentingnya etika atau sopan santun dalam pergaulan. Oleh sebab itu, harga diri atau prestise seseorang juga ditentukan oleh penampilannya, baik dalam bentuk perilaku atau tampilan fisik. Penampilan perilaku berupa pakaian yang dikenakannya. Orang Jawa memberikan peringatan agar seseorang dapat menjaga penampilan itu, penampilan lisan/ucapan dan tampilan berbusana. Ungkapan itu berbunyi ajining dhiri ana lathi, ajining raga ana busana (harga diri seseorang terletak pada bibir dan harga badan ada di pakaian). Yang dimaksud denga ‘bibir’ disini adalah ucapan atau kata-katanya. Nasihat itu dapat memenuhi harapan jika dilandasi dengan bertindak samadya (wajar). Mari kita urai ungkapan itu satu per satu. Ajining dhiri ana lathi (harga diri terletak pada ucapannya). Ucapan atau lisan memegang peranan penting bagi seseorang karena diyakini harga diri seseorang ditentukan oleh gerak bibir (ucapan atau lisan), seseorang harus berhati-hati menjaga lisannya. ...