<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444</id><updated>2011-04-21T17:04:25.078-07:00</updated><category term='banjar'/><category term='kalsel'/><category term='mutiara jawa'/><category term='samarinda'/><category term='Kalteng'/><category term='tionghoa'/><category term='Kalimantan'/><category term='kaltim'/><category term='jawa'/><title type='text'>Mutiara Budaya</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-1249095544848784512</id><published>2009-04-01T02:22:00.000-07:00</published><updated>2009-04-01T02:32:37.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutiara jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Ana Catur Mungkur</title><content type='html'>&lt;a href="http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/04/ana-catur-mungkur.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Ana catur mungkur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; arti lugasnya adalah "ada pembicaraan membelakangi". Secara kiasan ungkapan itu dimaksudkan untuk menggambarkan yang menyangkut keburukan atau kelemahan pihak orang lain. Catur artinya &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ngrasani eleking liyan&lt;/span&gt; (membicarakan keburukan orang lain) dengan maksud menjatuhkan atau menghina orang tersebut. Tindakan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ngrasani &lt;/span&gt;(membicarakan, atau mempergunjingkan) harus dipandang sebagai perbuatan yang tidak baik karena dapat menimbulkan sakit hati pada diri orang yang &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;dirasani&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;(pihak yang dibicarakan keburukannya). Pada umumnya, &lt;a href="http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/04/ana-catur-mungkur.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;nyatur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;atau &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ngrasani&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;(membicarakan) orang lain itu mengacu pada sudut kelemahannya atau sisi negatifnya, dan jarang membicarakan dari sudut kebaikannya karena tujuannya memang untuk menjatuhkan martabat orang yang dirasani atau dipergunjingkan. Ungkapan ini sejajar dan selaras dengan nasihat &lt;a href="http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-metani-alaning-liyan.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;aja metani alaning liyan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (jangan mencari-cari keburukan orang lain).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seseorang lazimnya lebih senang mencela orang lain. Ia enggan dan tidak mau mengerti tentang kesalahan sendiri. Tindakan itu sangat negatif karena dapat menimbulkan perselisihan. Pertama, hampir semua orang tidak suka dipergunjingkan keburukannya. Orang cenderung akan kecewa, sakit hati, atau bahkan marah sewaktu orang lain &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ngrasani&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;keburukan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita yang secara norma hukum dan sosial tidak ada kaitannya dengan "sang penggunjing".&lt;br /&gt;Kedua, tindakan ngrasani sebagai tindakan tidak transparan. Sang penggunjing dapat melihat keburukan orang lain, tapi tidak berani mengatakan keburukan diri sendiri. Lebih jauh, seseorang cenderung tidak konsekuen, dapat atau mau melihat kesalahan orang lain sekecil apapun tetapi tidak mau melihat kesalahan diri sendiri walaupun kesalahan itu sangat besar. Sikap dan perilaku nyatur (mempergunjingkan) kesalahan orang itu ibarat &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendahulu Jawa telah memberikan wejangan atau nasihat agar seseorang tidak mempergunjingkan kesalahan orang lain. Ia lebih baik mengoreksi diri atau kesalahannya sendiri dengan harapan dapat memperbaiki perbuatannya. Akan tetapi, hal itu sudah pasti sulit dilakukan jika tidak didasarkan pada sikap lembah manah (rendah hati). Nasihat atau wejangan tersebut disapaikan dengan ungkapan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;wong ikut ora bisa ngilo githoke dhewe&lt;/span&gt; (seseorang itu tidak dapat berkaca pada punggung sendiri). Maksudnya, seseorang itu tidak dapat melihat kesalahan diri sendiri, dan justru pandai melihat kesalahan orang lain. Cermin adlaah kaca yang dapat menampakkan sesuatu yang ada di depannya. Apa yang terlihat di cermin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Namun tidak mungkin orang bercermin pada punggung sendiri. Punggung jelas bukan cermin sehingga tidak mampu memperlihatkan kesalahan yang telah diperbuat pada waktu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ana catur mungkur&lt;/span&gt; menganjurkan kita untuk tidak membicarkan kelemahan orang lain. Jika ada orang lain yang mengaak dirinya untuk membicarakan kelemahan orang lain, jika ada orang yang sengaja menyeret kita untuk mempermasalahkan kelemahan orang lain, segeralah untuk menghindar. Segeralah untuk &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;mungkur&lt;/span&gt; (menghindar) dari pembicaraan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-1249095544848784512?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/1249095544848784512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/04/ana-catur-mungkur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/1249095544848784512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/1249095544848784512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/04/ana-catur-mungkur.html' title='Ana Catur Mungkur'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-1104956376094929245</id><published>2009-02-16T00:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T00:27:13.684-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutiara jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Ajining Dhiri Ana Lathi, Ajining Raga Ana Busana</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Masyarakat Jawa sangaat menekankan pentingnya etika atau sopan santun dalam pergaulan. Oleh sebab itu, harga diri atau prestise seseorang juga ditentukan oleh penampilannya, baik dalam bentuk perilaku atau tampilan fisik. Penampilan perilaku berupa pakaian yang dikenakannya. Orang Jawa memberikan peringatan agar seseorang dapat menjaga penampilan itu, penampilan lisan/ucapan dan tampilan berbusana. Ungkapan itu berbunyi &lt;i style=""&gt;ajining dhiri ana lathi, ajining raga ana busana&lt;/i&gt; (harga diri seseorang terletak pada bibir dan harga badan ada di pakaian). Yang dimaksud denga ‘bibir’ disini adalah ucapan atau kata-katanya. Nasihat itu dapat memenuhi harapan jika dilandasi dengan bertindak &lt;i style=""&gt;samadya&lt;/i&gt; (wajar). Mari kita urai ungkapan itu satu per satu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Ajining dhiri ana lathi &lt;/i&gt;(harga diri terletak pada ucapannya). Ucapan atau lisan memegang peranan penting bagi seseorang karena diyakini harga diri seseorang ditentukan oleh gerak bibir (ucapan atau lisan), seseorang harus berhati-hati menjaga lisannya. Kita harus benar-benar mempertimbangkan secara cermat akibat yang dapat ditimbulkan oleh ucapan itu. Kita perlu bertanya apakah ucapan itu mendatangkan persoalan bagi diri sendiri atau merugikan dan menyakitkan orang lain. Ucapan seseorang haruslah disadari sebagai cerminan pikiran dan pribadi seseorang. Dengan demikian, terlebih lagi jika ucapan itu berhubungan dengan kepentingan dengan orang lain. Orang lain akan menaruh kepercayaan kepada diri ita jika kita dapat memgang ucapan yang telah dinyatakannya. Seseorang yang tidak mampu menepati ucapan atau janjinya pasti tidak akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Semakin sering mengingkari ucapan atau janjinya, semakin cepat orang kehilangan penghargaan dari orang lain. Sebaliknya, orang yang dapat menjaga lisan atau ucapannya, akan menambah wibawa karena orang lain percaya apa yang dinyatakan adalah kebenaran yang selalu ditepainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dalam nasihat yang lain, kita perlu menghindarkan diri dari predikat sebagai orang yang &lt;i style=""&gt;omongane mencla-mencle&lt;/i&gt; (bicaranya plin-plan), yakni orang yang tidak dapat dipercaya tutur katanya. Dalam masyarakat Jawa, julukan orang yang tidak dapat dipercaya tutur katanya dikenal dalam ungkapan &lt;i style=""&gt;esuk dhele sore tempe &lt;/i&gt;(padi kedelai, sore tempe). Maksudnya sering berubah-ubah pendirian dan kata-katanya. Orang yang tidak dapat dipegang ucapannya juga dinilai negatif dengan sebutan &lt;i style=""&gt;lunyu ilate&lt;/i&gt; (licin lidahnya), artinya selalu berubah-ubah ucapannya. Orang yang &lt;i style=""&gt;esuk dhele sore tempe&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;lunyu ilate&lt;/i&gt; pasti kehilangan harga dirinya karena orang lain tidak mudah percyaa kepadanya. Ia memang tidak dapat dipercaya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sikap &lt;i style=""&gt;njaga lathi&lt;/i&gt; (menjaga ucapan) itu semakin penting pada orang-orang yang mendapat amanah sebagai panutan atau pemimpin. Jika pemimpin tidak dapat dipercaya ucapannya,masyarakat yang menajdi bawahannya akan mengalami kebingungan. Seorang pemimpin seharusnya berbicara konsisten dan benar sehingga tidak menimbulkan keresahan di kalangan bawahan. Salah satu ucapan yang dapat menimbulkan citra harga diri adalah harus berdasarkan kebenaran. Sehubungan dengan itu, orang Jawa memiliki ajaran agar bila mengatakan sesuatu hendaknya dilandasi alasan atau dasar yang akurat, dan tidak diharapkan berbicara asal bicara. Sikap semacam itu sepertii dituntut dalam ungkapan &lt;i style=""&gt;omongane waton, aja waton ngomong&lt;/i&gt; (bicaralah dengan dasar, jangan asal bicara). &lt;i style=""&gt;Omongane nganggo waton&lt;/i&gt; (berbicara ddengan dasar yang tepat) dapat mengarah pada kebaikan dan kebenaran, sedangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;waton ngomong&lt;/i&gt; (asal bicara) dapat menciptakan keresahan. Berbicara yang tanpa &lt;i style=""&gt;waton&lt;/i&gt; (dasar) dan &lt;i style=""&gt;waton sulaya&lt;/i&gt; (asal berbeda) dengan orang lain. Sikap &lt;i style=""&gt;waton sulaya&lt;/i&gt; justru menciptakan penilaian negatif pada orang itu yang mengakibatkan berkurangnya penghargaan orang lain kepadanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Ajining raga ing busana&lt;/i&gt; (harga badan pada pakaian). Kita dianjurkan untuk hidup &lt;i style=""&gt;samadya&lt;/i&gt; (sedang-sedang saja), tidak berlebihan, misalnya dalam bicara dan dalam berpakaian. Hal itu sebagai cermin sikap hidup sederhana. Akan tetapi, kita juga tidak dapat berpakaian sesuka hati. Semua itu harus sesuai dengan posisi dan kondisi yang sedang berlangsung. Walaupun tidak ada larangan dalam berpakaian, seseorang harus memahami dalam posisi apa berpakaian, dan kondisi apa ia berpakaian, dan dalam kepentingan apa ia berbusana. Kita harus mengetahui setiap kondisi dan kesempatan serta kepentingan memiliki “tradisi” berbusana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berbeda. Untuk itu, seseorang harus menyesuaikan dengan adat atau tradisi tersebut. Paket kata, dalam berbusana seseorang harus mengetahui &lt;i style=""&gt;empan-empan&lt;/i&gt; (situasi dan tempat), dan bukan tidak asal berpakaian atau &lt;i style=""&gt;waton bisa tuku&lt;/i&gt; (asal mampu membeli). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Seseorang harus mampu menempatkan busana sesuai kepentingannya. Pakaian orang melayat pasti berbeda dengan pakaian kerja. Pakaian saat resepsi perkawian, pasti berbeda dengan pakaian kenduri tasyakuran, dan sebagainya. Dengan demikian, sangat tidak laras jika kebiasaan berpakaian melayat dipaki pada saat bekerja atau sebaliknya. Pakaian anak muda jelas berbeda debgan pakaian orang yang telah berumur atau orang yang sudah tua. Pakaian santai di rumah juga berbeda dengan pakaian ibadah atau yang lainnya. Jika tak mampu menyelaraskan dengan situasi dan kondisi, orang lain akan menilai cara berpakaianya tidak tepat sehingga mendapat nilai negatif. Pakaian yang baik (bersih rapi) yang diselaraskan dengan situasi dan kondisi (&lt;i style=""&gt;empan papan&lt;/i&gt;) akan menciptakan orang lain menilai positif pada si pemakai. Sebaliknya, pakaian yang &lt;i style=""&gt;waton nganggo&lt;/i&gt; (asal memakai) akan meyebabkan kurangnya penghargaan orang lain kepada si pemakainya. Dari pandangan itu semakin jelaslah pandangan &lt;i style=""&gt;ajining raga ana ing busana &lt;/i&gt;(harga badan sesorang terletak pada pakainnya). Seorang wanita baik-baik yang mengenakan pakaian minim atau bikini sewaktu acara-cara resmi akan dinilai sebagai bentuk pakaian yang &lt;i style=""&gt;ora trep&lt;/i&gt; (tidak tepat) dan “ditertawakan” oleh orang lain. Kekeliruan dalam memilih dan mengenakan pakaian menyebabkan orang lain menilai bahwa si pemakainya tidak mengerti tatacara berpakaian. Akhirnya, pakaian yang tidak pantas akan menimbulkan penilaian negatif pada si pemakai yang dapat mengurangi harga diri atau kehormatan si pemakai.&lt;/p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-1104956376094929245?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/1104956376094929245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/ajining-dhiri-ana-lathi-ajining-raga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/1104956376094929245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/1104956376094929245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/ajining-dhiri-ana-lathi-ajining-raga.html' title='Ajining Dhiri Ana Lathi, Ajining Raga Ana Busana'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-493434307406465547</id><published>2009-02-13T23:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T23:04:27.121-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutiara jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Aja Rumangsa Bisa, Nanging Bisaa Rumangsa</title><content type='html'>&lt;w:sdt contentlocked="t" sdtgroup="t" id="89512093"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:78%;"  &gt;&lt;w:sdtpr&gt;&lt;/w:sdtpr&gt;&lt;w:sdt xpath="/ns0:BlogPostInfo/ns0:PostTitle" docpart="DD0BE6AA125A46A298335CEEA1FE57DA" text="t" storeitemid="X_736A9F09-6030-4D46-8B6F-E04B493AFD28" title="Post Title" id="89512082"&gt;&lt;/w:sdt&gt;&lt;/span&gt;&lt;/w:sdt&gt;Ungkapan &lt;i style=""&gt;aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa &lt;/i&gt;(jangan merasa bisa, tetapai bisalah merasa) memiliki makna yang sangat strategis dan mendalam. Ungkapan ini bernada nasihat agar seseorang tumbuh menjadi sosok yang rendah hati, sebaliknya tidak tumbuh menjadi sosok yang tinggi hati atau somboong. Dalam kehidupan masyarakat Jawa tradisional, banyak ditemukan &lt;i style=""&gt;unen-unen&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;wewarah&lt;/i&gt; (nasihat) agar seseorang tetap dalam koridor pribadi yang &lt;i style=""&gt;lembah manah&lt;/i&gt; (rendah hati, dan rendah hati tidak berarti rendah diri) dan sebaliknya kita mengangggap rendah pihak lain. Dalam ajaran Jawa, seseorang lebih ditekankan untuk dapat melakukan koreksi ke dalam sehingga tidak terdorong untuk “menghujat” atau “merendahkan” orang lain.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam berbagai kesempatan, seseorang harus tetap bersikap untuk menahan diri dan tidak terdorong untuk menonjolkan dirinya sendiri (tidka dibenarkan utnuk bersikap unjuk gigi). Terlebih lagi, dalam tatanan sosial-kemasyarakatan Jawa, tidak pada tempatnya seseorang melakukan tindakan yang dapat merendahkan atau memojokkan pihak lain. Pendek kata, sangat tidak etis jika seseorang mempermalukan orang lain di hadapan umum atau di hadapan publik, baik melalui ucapan maupun tindakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tampaknya ungkapan &lt;i style=""&gt;aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa&lt;/i&gt; semakin jauh dari pergaulan dewasa ini. Era keterbukaan dan demokrasi yang melanda masyarakat dari kota metropolitan hingga pelosok desa telah mengubah cara berpikir masyarakat, termasuk masyarakat Jawa, sehingga muncul arogansi yang ujung-ujungnya memunculkan tindakan saling melemahkan atau memojokkan satu dengan yang lain, baik pada bidang sosial, ekonomi, politik, maupun hukum. Slah satu buktinya, pergantian pimpinan pemerintahan (mulai dari presiden, gubernur, hingga lurah di pedesaan) lebih sering diawali dengan dorongan untuk saling menjatuhkan (istilah Jawanya me­-­&lt;i style=""&gt;lengser&lt;/i&gt;-kan) melalui tindkan “mengkritik”, “menghujat”, dan sebagainya. Situasi saling menjatuhkan tersebut diperparah dengan lahirnya budaya kritik yang disampaikan secara tidak berbudaya atau kritik yang disarkan pada &lt;i style=""&gt;rasa pamrih &lt;/i&gt;atau &lt;i style=""&gt;meri&lt;/i&gt; (pamrih atau iri hati), bukan kritik konstruktif (kritik membangun) yang berorientasi pada kepentingan masyarakat dan bangsa. Kondisi itu semakin menjauhkan masyarakat dari cara berpikir Jawa yang bersifat &lt;i style=""&gt;sinamudana&lt;/i&gt; (memakai simbol-simbol) berupa ucapan, gerak-gerik tubuh dan lain lain atau tidak langsung dan berubah kepada cara berpikir yang transparan atau &lt;i style=""&gt;melok&lt;/i&gt; (langsung).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam hubungan seperti ini banyak orang terjebak pada perilaku &lt;i style=""&gt;rumangsa bisa&lt;/i&gt; (merasa bisa atau mampu) yang mengakibatkan orang tersebut menilai rendah (bodoh, tidak cakap dan sejumlah penilaian negatif lainnya) terhadap pihak lain. Banyak lurah desa yang didemo dan dijatuhkan karena dinilai tidak mampu menjalankan kewajibannya. Akan tetapi, anehnya pengganti mereka yang berasal dari pihak yang semula menghujat pejabat yang di-&lt;i style=""&gt;lengser­-&lt;/i&gt;kan itu juga tidak mampu mengemban amanat memegang jabatan yang digantikannya. Bahkan, justru kebobrokan yang lebih parah terjadi pada saat pemimpin itu memegang jabatan tertentu. Kondisi ini mencerminkan bahwa orang-orang yang semula mengkritik atau menghujat itu memiliki watak &lt;i style=""&gt;rumangsa bisa&lt;/i&gt;(merasa bisa) tetapi sesungguhnya mereka itu terbukti &lt;i style=""&gt;ora bisa &lt;/i&gt;(tidak bisa). Mereka sama sekali tidak memiliki sikap &lt;i style=""&gt;bisa rumangsa&lt;/i&gt; (bisa merasa) yang hakekatnya adalah sikap koreksi pada kemampuan diri sendiri sehingga dapat mendorong seseorang berperilaku arif dan bijaksana (tidak hanya pandai “mencela” atau “menghujat” orang lain karena menyadari bahwa dirinya juga memilki banyak keterbatasan).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sikap &lt;i style=""&gt;bisa rumangsa&lt;/i&gt; akan membawa pengaruh positif, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Pertama, bagi diri sendiri, ia tidak terjerumus pada &lt;i style=""&gt;euforia&lt;/i&gt;, budaya suka mencela yang sebenarnya dirinya memiliki &lt;i style=""&gt;pamrih &lt;/i&gt;pribadi, &lt;i style=""&gt;pamrih&lt;/i&gt; kelompok, atau &lt;i style=""&gt;pamrih &lt;/i&gt;golongan. Kedua, ia selalu terdorong untuk selalu berbuat yang melegakan atau meng-enak-kan hati dan tenteram bagi pergaulan sosial.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-493434307406465547?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/493434307406465547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-rumangsa-bisa-nanging-bisaa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/493434307406465547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/493434307406465547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-rumangsa-bisa-nanging-bisaa.html' title='Aja Rumangsa Bisa, Nanging Bisaa Rumangsa'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-7874694949618767675</id><published>2009-02-12T08:57:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T09:05:27.891-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutiara jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Aja Nggege Mangsa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Ungkapan &lt;i style=""&gt;aja nggege mangsa&lt;/i&gt; terdiri dari kata &lt;i style=""&gt;aja&lt;/i&gt; (jangan), &lt;i style=""&gt;nggege&lt;/i&gt; (mempercepat atau mendahului) dan &lt;i style=""&gt;mangsa&lt;/i&gt; (waktu). Secara eksplisit, ungkapan &lt;i style=""&gt;aja nggege mangsa&lt;/i&gt; berarti ‘jangan mendahului waktu’. Dalam etika dan filsafat Jawa, ungkapan itu memiliki makna yang lebih dalam. Pemaknaanya terkait erat dengan sikap hidup dan kaitan jati dir manusia sebagai individu, sosial dan umat ciptaan Tuhan.&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Ungkapan &lt;i style=""&gt;aja nggege mangsa &lt;/i&gt;berisi nasihat agar dalam upaya mencapai maksud atau cita-cita tertentu, seseorang harus mampu mengendalikan dirinya. Demi suatu keinginan sesorang dianjurkan untuk tidak melakukan kecurangan. Tanpa didasari oleh pengendalian diri dan keyakinan bahwa segalanya akan ditentukan oleh Tuhan, seseorang seringkali tergelincir pada sikap &lt;i style=""&gt;nggege mangsa&lt;/i&gt; (mendahului waktu). Dari keinginan yang tidak terkendali itu, seseorang bisa terperosok pada tindakan negatif asal tujuan atau keinginannya tercapai. Untuk menghindar dari hal tersbut, maka dalam berusaha kita perlu menyeimbangkan antara semangat dengan sikap pasrah, yang dilandasi sikap hidup &lt;i style=""&gt;samadya&lt;/i&gt; (sedang, sewajarnya) dan tidak tampak &lt;i style=""&gt;ngaya&lt;/i&gt; (terlalu memaksa diri). Untuk dapat terhindar dari sikap &lt;i style=""&gt;nggege mangsa&lt;/i&gt; (terburu nafsu dalam mencapai sesuatu), dibutuhkan kejernihan dalam berpikir, kedewasaan, dan kemampuan untuk mengarahkan tindakan demi tujuan akhir, yakni mencari ridha Tuhan sembari tetap memperhatikan kepentingan orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Sebagaimana dikatakan sebelumnya, tindakan &lt;i style=""&gt;nggege mangsa&lt;/i&gt; cenderung mendorong seseorang melakukan tindakan negatif. Pada era sekarang ini, &lt;i style=""&gt;nggege mangsa&lt;/i&gt; hampir identik dengan mengambil jalan pintas dalam konotasi negatif. Dengan mengambil jalan pintas, memiliki kecenderungan untuk melanggar prosedur normatif, menimbulkan sikap tidak jujur, dan kemungkinan besar akan merugikan pihak lain. Akibat dari tindakan yang nggege mangsa&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;dapat bermuara pada munculnya kecemburuan sosial dan membangun perilaku tidak jujur pada masyarakat. Oleh sebab itu, budaya Jawa mengajarkan agar seseorang tidak perlu melakukan tindakan yang mengarah pada &lt;i style=""&gt;nggege mangsa&lt;/i&gt;. Untuk sampai pada sikap hidup tersebut, seseorang perlu berpegang pada ajaran Jawa &lt;i style=""&gt;yen pesthine mesthi kelakon &lt;/i&gt;(jika telah takdir Tuhan pasti terlaksanan). Dalam mencapai suatu keinginan atau cita-cita, seseorang dianjurkan untuk &lt;i style=""&gt;mbudidaya linambaran nyenyuwun marang Gusti&lt;/i&gt; (berusaha sambil memohon kepada Tuhan). Jika dalam mencapai cita-cita dilandasi oleh permohonan pada Tuhan, pasti tujuan akhir dari cita-cita tersebut adalah mencari ridha Tuhan. Dalam alur pikiran semacam itu, seseorang akan terhindar dari sikap egois dan sikap menghalalkan segala cara yang cenderung menjurus kepada pelanggaran norma dan merugikan pihak lain.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-7874694949618767675?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/7874694949618767675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-nggege-mangsa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/7874694949618767675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/7874694949618767675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-nggege-mangsa.html' title='Aja Nggege Mangsa'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-5844008741343249143</id><published>2009-02-10T16:11:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T16:16:08.213-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutiara jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Aja Metani Alaning Liyan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Ungkapan &lt;i style=""&gt;aja metani alaning liyan&lt;/i&gt; berisi nasihat yang berorientasi pada upaya untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam pergaulan sosial. Pendek kata, agar terjadi situasi hidup bermasyarakat yang saling percaya, saling menghormati, saling menghargai demi terciptanya lingkungan sosial-kemasyarakatan yang harmonis. Kata &lt;i style=""&gt;metani&lt;/i&gt; dalam ungkapan tersebut terbentuk dari kata dasar bahasa &lt;a href="http://mutiarabudaya.blogspot.com/search/label/jawa"&gt;Jawa&lt;/a&gt; &lt;i style=""&gt;petan&lt;/i&gt; (cari kutu rambut), dan &lt;i style=""&gt;metani&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berati (mencari kutu rambut). &lt;i style=""&gt;Petan&lt;/i&gt; yang berubah menjadi &lt;i style=""&gt;metani&lt;/i&gt; sebagai bentuk aktif, yang berarti mencari kutu rambut. Kata &lt;i style=""&gt;alaning&lt;/i&gt; (jeleknya) terbentuk dari kata &lt;i style=""&gt;ala&lt;/i&gt; (jelek) dan mendapat akhiran &lt;i style=""&gt;ning&lt;/i&gt;. Kata &lt;i style=""&gt;liyan&lt;/i&gt; (lain, pihak lain)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berasal dari kata dasar &lt;i style=""&gt;liya&lt;/i&gt; yang mendapat ahiran &lt;i style=""&gt;an&lt;/i&gt; lain, sehingga berarti lain atau orang lain.&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Kutu rambut adalah hewan yang sangat kecil, sudah pasti hewan itu sulit didapatkan. Orang mencari kutu rambut memberi gambaran mencari sesuatu yang kecil di tengah-tengah rambut. Akan tetapi, pekerjaan yang sulit itupun tetap dilakukan karena tujuan akhirnya memang menemukan atau menangkap kutu rambt tersebut. Ungkapan ini adalah nasihat orang Jawa berupa perumpamaan. Kata &lt;i style=""&gt;metani&lt;/i&gt; dalam konteks ini memiliki arti sebagai ‘mencari-cari’, mencari sesuatu yang seharusnya tidak perlu dicari, atau mencari sesuatu yang sulit dicari. Kutu rambut merupakan lambang kesalahan orang lain. Oleh sebab itu, perumpamaan di atas berarti ‘jangan mencari-cari kesalahan orang lain’.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Orang yang mencari-cari kesalahan orang lain itu memiliki berbagai tujuan. Misalnya, pertama, untuk menyebarkan fitnah atas seseorang agar orang yang difitnah menjadi rusak nama baiknya. Kedua, sebagai bentuk pelampiasan rasa tidak percaya diri karena kalah dalam persaingan hidup (kalah pandai, kalah kaya, kalah terhormat dalam masyarakat, dan sebagainya). Jadi, upaya mencari-cari kesalahan itu didasarkan pada rasa iri hati atas keberhasilan dan kebaikan orang lain. Maksud lainnya, ketiga, adalah menutupi kelemahan diri sendiri dengan jalan menjelek-jelekkan orang lain, dengan harapan nama baiknya sendiri akan terangkat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Orang-orang tua kita dulu pastilah memiliki latar belakang pemikiran yang arif dan bijak dalam memberikan nasehat terbut. Nasihat itu diarahkan untuk tetap menjaga hubungan bermasyarakat yang harmonis dan rukun. Tindakan mencari kesalahan orang lain jelas tidak disukai oleh pihak yang dicela. Jika tidak terkendali, tindakan tersebut akan berkembang menjadi fitnah. Suatu fitnah akan dapat menjurus kepada tindakan yang lebih jauh merugikan, misalnya pertengkaranm perselisihan, atau bahkan pembunuhan. Dalam konteks ini, sangatlah benar kata-kata bijak yang mengatakan bahwa fitnah lebih kejam atau lebih jahat daripada pembunuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Tindakan mencari-cari kesalahan orang lain itu, jika tidak terkendali, akan menimbulkan fitnah yang berantai. Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain biasanya akan mengatakan kesalahan atau keburukan tersebut kepada orang lain. Dari sinilah hal buruk tersebut menyebar dan berkembang menjadi fitnah, dan selanjutnya terciptalah fitnah berantai. Jika sudah demikian, pastilah orang yang difitnah itu jatuh nama baiknya. Hal itulah yang dikehendaki oleh orang yang mencari-cari kesalahan orang lain. Ia baru merasa berhasil jika mampu mempengarhi semua orang untuk membenci orang yang dikatakan bersalah tadi. Pada tahap ini, terjadinya pertengkaran tinggal menunggu waktu saja. Pada umumnya, jika dilakukan klarifikasi pihak-pihak yang berada pada rantai fitnah akan menghindar dengan saling tuduh satu sama lain. Dalam masyarakat Jawa, orang yang memiliki “kesenangan” mencari-cari kesalahan orang lain disebut &lt;i style=""&gt;tumbak cucukan&lt;/i&gt;, artinya orang yang senang mengatkan keburukan orang lain. Dalam ungkapan lainnya perilaku ini disebut sebagai &lt;i style=""&gt;seneng adul-adul&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Berdasarkan hal tersebut, sesorang perlu menghindari tindakan mencari kesalahan oang lain. Alangkah baiknya jika kita berpikir positif terhadap orang lain, dengan keyakinan bahwa setiap orang memiliki sisi baik, dan hal baik ini jauh lebih bermanfaat bagi diri kita. Tidak ada seorangpun yang sempurna, setiap orang memiliki kelebihan dan tidak terhindar dari kekurangan. Sikap arif ini “tidak mencari keburukan orang lain” menjadi medium untuk mawas diri bahwa diri kita sendiri juga penuh dengan kekurangan. Mengapa harus mencari-cari kesalahan orang lain? Tidak ada orang yang senang jika kesalahannya disebarluaskan kepada orang lain, termasuk diri kita sendiri. Dlam konteks ini, perlu pula menyimak salah satu nasihat lainnya, yang berbunyi &lt;i style=""&gt;yen ora gelem dijiwit ya aja njiwit&lt;/i&gt; (jika tidak mau dicubit, ya jangan mencubit). Jika kita tidak mau difitnah, maka janganlah kita menfitnah oranglain.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-5844008741343249143?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/5844008741343249143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-metani-alaning-liyan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/5844008741343249143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/5844008741343249143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-metani-alaning-liyan.html' title='Aja Metani Alaning Liyan'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-8091933882442784345</id><published>2009-02-09T07:59:00.001-08:00</published><updated>2009-02-09T08:15:40.417-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutiara jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Aja Cedhak Kebo Gupak</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam pandangan masyarakat Jawa, watak dan perbuatan atau kepribadian seseorang diperngaruhi oleh pergaulan atau akibat komunikasi dengan oran lain, Oleh sebab itu, orang Jawa memiliki pertimbangan yang sangat hati-hati dalam memilih teman pergaulan. Jika bergaul dengan orang yang berperilaku baik, kemungkinan besar dirinnya akan berkembang menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, jika bergaul dengan orang berperangai buruk atau jelek, seseorang cenderung tumbuh menjadi pribadi yang tidak baik. Secara gambling, jika bergaul dengan pencuri, perampok, pembunuh, koruptor, pemeras, pemberontak, dan sejenisnya, seseorang akan memiliki watak sebagai pencuri, perampok, pembunuh, koruptor, pemeras, pemberontak, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sejalan dengan itu ungkapan &lt;em&gt;witing tresna jalaran seka kulina&lt;/em&gt; pun memiliki relevansi dalam pembentukan perilaku seseorang akibat pergaulannya. Pada awalnya seseorang merasa kaku atau kikuk sewaktu bergaul dengan orang-orang berperangai buruk. Akan tetapi, lama kelamaan, ia akan terbiasa dan akhirnya, jadilah ia bagian yang tidak terpisahkan dengan orang-orang yang melakkan kejahatan. Disamping itu, seperti layaknya aruskejahatan, sesuatu yang buruk lebih mudah merasuk ke dalam pikiran seseorang. Dan, sudah lazim dan terbukti bahwa orang-orang yang melakukan tindak kejahatan itu memiliki ikaan yang sangat kuat. Oleh sebab itu, jika telah masuk dalam jaringan orang-orang “abnormal” (kelompok pelaku kejahatan), seseorang sulit melepaskan diri dan kembali ke jalur hidup yang “normal” (kebaikan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berdasarkan hal itu, perlukah seseorang memilih pergaulan hidup yang sebaik-baiknya. Jika memiliki orientasi untuk tumbuh dan berkembang kea rah perilaku yang baik “normal” (tidak melanggar norma etika, hukum, agama, sosial, dan kebangsaan), tidak ada pilihan lain kecuali mencari teman pergaulan orang-orang yang berperangai baik. Oleh sebab itu, orang-orang tua dan orang0orang arif tempo dulu menasihatkan dengan anjuran aja cedhak kebo gupak (jangan dekat kerbau kotor). Sebenarnya, ungkapan ini tidak hanya berfungsi sebagai anjuran, meainkan sebagai larangan yang terbukti dengan dipakainya kata &lt;em&gt;aja&lt;/em&gt; (jangan). &lt;em&gt;Kebo gupak&lt;/em&gt; (kerbau kotor) sebagai lmbang orang-orang berperangai buruk. Dengan demikian maksud larangan itu adalah kita jangan mendekati orang-orang berperngai buruk dengan harapan tidak akan tertulari keburukannya. Nasihat itu juga tertera dalam &lt;em&gt;Serat Wulangreh karya Sunan Pkubuwana IV&lt;/em&gt;, sebagaimana dikutip berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Yen wis tinitah wong agung,&lt;br /&gt;Aja sirna nggunggung dhiri&lt;br /&gt;Aja leket lan wong ala&lt;br /&gt;Kang ala lakunireki&lt;br /&gt;Nora wurung ngajak-ajak&lt;br /&gt;Satemah anunulari&lt;br /&gt;Yen wong anom opan wus tamtu&lt;br /&gt;Manut marang kang ngadhepi&lt;br /&gt;Yen kangngadhep akeh bangsat&lt;br /&gt;Ora wurung bias juti&lt;br /&gt;Yen kang ngadhep ke dhurjana&lt;br /&gt;Nora wurung bias maling&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu ungkapan aja cedhak kebo gupak memiliki maksud yang sama dengan ungkapan yang lain, yakni &lt;em&gt;aja cedhak kirik gudhigen&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(jangan dekat anak anjing kudisan) dan &lt;em&gt;aja cedhak celeng boloten&lt;/em&gt; (jangan dekat babi hutan boloten). &lt;em&gt;Kirik gudhigen&lt;/em&gt; (anak anjing kudisan) sebagai lambang orang yang jahat. &lt;em&gt;Celeng boloten&lt;/em&gt; adalah gambaran orang yang berperilaku kotor (&lt;em&gt;bolot&lt;/em&gt; adala kotoran yang melekat pada tubuh).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Larangan dekat dengan celeng boloten dimaksudkan agar tidak tertular oleh perilaku kotor tersebut. Oleh karena itu, kita tidak oleh mendekati kirik gudhigen itu agar tidak tertular sehingga diri kita tidak menjadi &lt;em&gt;gudhigen&lt;/em&gt; (kudisan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hikmah yan dapat dipetik dari ungkapan-ungkapan tersebut adalah perlunya berhati-hati dalam memilih teman pergaulan. Jika ingin memiliki perilaku yang baik, harus berkawan dngan orang aik. Jangan bergaul dengan orang-orang berperilaku buruk jika seseorang erharap memiliki watak yang baik, yakni watak yang lembah manah (rendah hati), tepa slira, perwira, dan &lt;em&gt;memayu hayuning bawana&lt;/em&gt; (menjaga keselamatan dunia atau kehidupan) melalui tindakan &lt;em&gt;memangun karyenak tyasing sasama&lt;/em&gt; (mengupayakan orang lain senag hatinya) karena tindakan dan &lt;em&gt;lelabuhan&lt;/em&gt; (pengorbanan) kita. Seara simbolik, jika ingin memiliki watak yang bagus dan cantik &lt;em&gt;aja cedhak kebo gupak&lt;/em&gt; (jangan dekat kebau kotor) atau &lt;em&gt;aja cedhak kirik gudhigen&lt;/em&gt; (jangan dekat anak anjing kudisan). Siapa yang dekat dengan kerbau kotor aau &lt;em&gt;kirik gudigen&lt;/em&gt;, pasti cepat atau lambat akan menjadi kotor, atau dirinya akan menjelma &lt;em&gt;kebu gupak&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;kirik gudhigen&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-8091933882442784345?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/8091933882442784345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-cedhak-kebo-gupak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/8091933882442784345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/8091933882442784345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/aja-cedhak-kebo-gupak.html' title='Aja Cedhak Kebo Gupak'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-7586316523649438828</id><published>2009-02-09T02:28:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T02:34:16.838-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kaltim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='samarinda'/><title type='text'>Alaq Tau</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Sebuah ritual yang dilakukan warga Dayak Kenyah di  Samarinda, Kalimantan Timur sebelum memulai masa tanam padi. Tradisi ini  bertujuan untuk memohon petunjuk kepada  Sang Pencipta dalam memilih waktu yang tepat untuk menanam padi. Ritual diawali  pembacaan doa yang dilakukan tetua adat. Waktu yang tepat biasanya didasarkan  pada bentuk koordinat tertentu dari matahari yang dibaca tetua adat. &lt;span class="fullpost"&gt;Kemudian,  ritual ini dilanjutkan dengan sejumlah tarian yang berhubungan dengan kehidupan  agraris warga seperti tari pangpagaq; tari udoq aban; dan tari anyam tali. Tari  pangpagaq adalah tarian yang menggambarkan upaya menangkap binatang yang masuk  ke areal pertanian, gerakannya melompat-lompat di antara kayu dengan rentak  teratur seperti hendak menjebak binatang. Sedangkan tari udoq aban atau tarian  topeng dimaksudkan untuk mengusir roh jahat dan hama padi menjelang musim panen  tiba. Rangkaian tarian ditutup dengan tari anyam tali yang menggambarkan  persatuan warga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://melayuonline.com"&gt;melayuonline.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-7586316523649438828?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/7586316523649438828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/alaq-tau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/7586316523649438828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/7586316523649438828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/alaq-tau.html' title='Alaq Tau'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-6982762532622616902</id><published>2009-02-09T02:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T02:24:05.136-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='banjar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kalsel'/><title type='text'>Bahasa Banjar</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Bahasa Banjar yang digunakan hampir seluruh penduduk Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga saat ini banyak dipengaruhi bahasa Melayu dan bahasa Dayak sebagai bahasa asli penduduk Pulau Kalimantan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Pengaruh bahasa Melayu dan bahasa Dayak itu kalau ditinjau dari segi fonologi maupun morfologi, maka bahasa Banjar digolongkan pada dua karakter lingua, kata pemerhati bahasa Banjar Mukhlis Maman, di Banjarmasin, Kamis (28/2).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Kedua karakter lingua itu yakni bahasa Banjar hulu dan bahasa Banjar kuala atau muara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Mukhlis Maman yang juga seorang seminam komedian bahasa Banjar berkesempatan berbicara dengan tema Bahasa Banjar dalam Media Tradisional pada acara penyuluhan bahasa Banjar untuk kalangan pelajar dalam rangka peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2008 di Banjarmasin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Berdasarkan fonologi, bahasa Banjar hulu hanya mengenal tiga huruf vokal yaitu; a, i, u.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Sedangkan bahasa Banjar kuala terdapat enam huruf vokal yaitu; a, i, u, e, o, dan e.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Morfologi bahasa Banjar hulu banyak sekali menggunakan kosa kata arkais yang sering digunakan oleh masyarakat adat etnik bukit, sedangkan bahasa Banjar kuala banyak menggunakan kata etnik Melayu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IT" &gt;Ciri lain penggunaan bahasa Banjar hulu adalah masyarakat yang menghuni dataran sedang dan perbukitan dan daerah perladangan, dengan dialektis agak kaku, pendek-pendek, keras dan cepat.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Sedangkan bahasa Banjar kuala adalah masyarakat yang menghuni tepian sungai, laut, muara rantauan dan pendukuhan dengan dialektis mengalun, meliuk-meliuk, tidak keras dan tidak cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IT" &gt;Sehingga perbedaannya tidak terlalu menyolok, hanya mungkin pada pengunaan beberapa kosa kata saja, maka antara kedua wilayah karakter bahasa ini tidak ada kesulitan dalam berkomunikasi maupun dalam percakapan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IT" &gt;Dalam perjalanan kehidupan bangsa tempu dulu maka peranan bahasa merupakan unsur paling utama dalam hubungan berkehidupan dengan etnis dan bangsa lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IT" &gt;Bahasa yang digunakan dinamakan bahasa Banjar yang terdiri dari campuran bahasa Dayak dan Melayu, sehingga bahasa Banjar menjadi bahasa pergaulan (lingua franca) bagi penutur puluhan bahasa daerah di wilayah Provinsi Kalimantan Selaran, sebagian Kalimantan Temgah dan Kalimantan Timur.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IT" &gt;Selain itu bahasa Banjar juga berkembang hingga ke wilayah negara Brunei Darusalam dan negara bagian Malaysia di Utaran Pulau Kalimantan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IT" &gt;Para linguis atau ahli bahasa dalam diakronis atau kesejarahan bahasa menyatakan bahwa bahasa Banjar termasuk kedalam anggota kerabat rumpun bahasa Austronesia Barat di wilayah gugusan kepulauan di selatan lautan Pasifik, yang dihipotesiskan berbeda dengan bahasa yang lainnya yang terdapat di wilayah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IT" &gt;Dalam kedudukannya basa Banjar diketahui sangat terpengaruh besar di daratan Borneo, oleh karena itu bahasa Banjar memiliki beberapa fungsi antara lain lambang kebangsaan daerah, lambang identitas masyarakat Banjar, media penghubung perkacapan dalam keluarga, media berkomunikasi dengan berbagai masyarakat yang ada di Kalsel, Kalteng,dan Kaltim.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IT" &gt;Di Kalsel penggunaan bahasa banjar hampir menyeluruh, dengan berbagai subdialek dan kosa kata arkais dari daerah tertentu di provinsi ini, disamping itu ada pula beberapa masyarakat pendatang yang tinggal dan menetap di daerah ini dengan cepat tertular tuturannya ke dalam bahasa Banjar.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 13.5pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Sumber : &lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;www.mediaindonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-6982762532622616902?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/6982762532622616902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/bahasa-banjar-dipengaruhi-bahasa-melayu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/6982762532622616902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/6982762532622616902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/bahasa-banjar-dipengaruhi-bahasa-melayu.html' title='Bahasa Banjar'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-2493446691246126959</id><published>2009-02-09T01:56:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T02:07:58.355-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Pángu Mutiara Budaya Tionghoa</title><content type='html'>&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=""&gt;sejarah Tionghoa disebutkan seorang makhluk bernama Pángu. Ia dikisahkan sebagai leluhur pembuka langit dan bumi yang dengan sekuat kemampuannya dan mengorbankan nyawanya sendiri untuk menggantikan keberadaan dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pángu umumnya dilukiskan sebagai raksasa primitif berbulu dengan tanduk di kepalanya dan memakai pakaian dari bulu binatang,” ujar Sunanto Eddy Tamrin, seorang peminat budaya Tionghoa kepada &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;Tribun&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; belum lama ini.&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan kata lain, Pángu adalah wujud dari alam semesta, dalam legenda memisahkan langit dan bumi. Ia juga diyakni sudah menciptakan unsur kebudayaan, ilmu pengetahuan dan filosofi yang sangat kaya dan menarik. “Semangat dan kerja keras Pángu yang sampai mengorbankan diri untuk membentuk dunia merupakan semangat manusiawi yang paling luhur dan tinggi,” papar Sunanto.&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Selama ribuan tahun, legenda Pángu di atas dunia yang ia ciptakan dengan mengorbankan jiwanya tetap dikenang dan disebarluaskan dari generasi ke generasi. Tak pelak Pángu menjadi satu di antara mutiara dalam kebudayaan Tionghoa,” tambahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;Ketika alam semesta baru mulai, tak ada apapun di alam ini, kecuali suatu kekacauan tanpa bentuk. Tetapi kemudian kekacauan ini mulai bersatu dalam suatu kosmis berbentuk telur untuk waktu 18.000 tahun. Di dalam kosmis itu, dengan sempurna terdapat prinsip Yin dan Yáng yang mulai menjadi seimbang sehingga Pángu muncul dan hidup (atau bangun) dalam telur tersebut. Pángu langsung memulai tugas menciptakan dunia, antara lain memisahkan Yin dan Yáng dengan ayunan dari kampak raksasanya, menciptakan bumi (Yin yang suram, kuning telur) dan langit (Yáng yang bersih, putih telur). Untuk menjaga bumi dan langit tetap terpisah, Pángu berdiri di antara bumi dan langit dan mendorong langit ke atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tugas ini menghabiskan waktu selama 18 ribu tahun, di mana setiap hari langit naik 10 kaki lebih tinggi, bumi 10 kaki lebih luas, dan Pángu tumbuh 10 kaki lebih tinggi. Dalam beberapa versi cerita ini, Pángu dalam tugas ini dibantu oleh empat binatang yang sangat terkenal dalam tradisi Tionghoa, yakni Xuánwu (Kura-kura), Qílín (Kirin), Fènghuáng (Phoenix), dan Lóng (Naga).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Setelah 18 ribu tahun berlalu, Pángu berbaring untuk istirahat. Hembusan nafasnya diyakini menjadi angin, suaranya menjadi guntur, mata kanannya menjadi matahari dan mata kirinya menjadi bulan. Badannya menjadi pegunungan, darahnya mengalir membentuk sungai, ototnya menjadi tanah yang subur, bulu mukanya menjadi gugusan bintang. Bulu badannya menjadi hutan dan semak, tulangnya menjadi air mineral yang berharga, sumsum tulangnya menjadi intan yang suci, keringatnya jatuh sebagai hujan, dan makhluk kecil pada badannya yang dibawa oleh angin menjadi manusia di seluruh penjuru dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penulis pertama untuk catatan mistik Pángu adalah Xú Zheng pada zaman Periode Tiga Kerajaan atau periode Zhan Guo. Gunung Pángushan, yang terletak 15 kilometer arah selatan Mìyángxiàn Provinsi Hénán, Cina diyakini sebagai tempat di mana Pángu memisahkan langit dan bumi, menciptakan manusia dan segala makluk di dunia ini. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ruri&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="arial"&gt;sumber : &lt;a href="http://hanonsari.com/?p=56"&gt;http://hanonsari.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-2493446691246126959?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/2493446691246126959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/pangu-mutiara-budaya-tionghoa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/2493446691246126959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/2493446691246126959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/pangu-mutiara-budaya-tionghoa.html' title='Pángu Mutiara Budaya Tionghoa'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-5591059063087604469</id><published>2009-02-09T01:43:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T01:48:21.097-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalteng'/><title type='text'>Isen Mulang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Isen Mulang merupakan kata yang diambil dari teks sebenarnya yang bertuliskan “&lt;i style=""&gt;Isen Mulang Pantang Mundur Dia Tende Nyamah Nggetu Hinting Bunu Panjang&lt;/i&gt;”. Kata Isen Mulang sangat dikenal di Kalimantan Tengah, bahkan terkandung pula pada Lambang/ Simbol/ Logo Provinsi Kalimantan Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Secara sederhana kata &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Isen Mulang” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;dapat diartikan sebagai semangat &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pantang Mundur.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kata-kata &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Isen Mulang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; merupakan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bahasa Sangiang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yakni &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bahasa Dayak&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yang tertua di &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalimantan Tengah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Kalteng)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bahasa Sangiang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; ini hingga sekarang masih banyak digunakan  oleh &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Suku Dayak&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yang beragama &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kaharingan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; untuk melakukan ritual keagamaan dan komunikasi dengan yang maha kuasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kata &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Isen Mulang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; merupakan simbol semangat juang masyarakat &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalteng&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; untuk membangun daerah, khususnya &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalimantan Tengah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;tanpa henti-hentinya sampai tutup usia atau titik darah terakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-5591059063087604469?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/5591059063087604469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/isen-mulang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/5591059063087604469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/5591059063087604469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/isen-mulang.html' title='Isen Mulang'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642340470979620444.post-7470108640819269516</id><published>2009-02-07T09:43:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T01:48:51.527-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutiara jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Adigang, Adigung, Adiguna</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ungkapan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;adigang&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;adigung&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;adiguna&lt;/span&gt; sangat populer dalam masyarakat Jawa. Ungkapan ini berisi nasihat agar seseorang tidak berwatak angkuh atau sombong seperti watak binatang yang tersirat dalam ungkapan ini. Adigang adalah gambaran watak kijang yang menyombongkan kecepatan/ kekuatan larinya. Adigung merupakan watak kesombongan binatang gajah yang karena besar tubuhnya selalu merasa menang dibandingkan hewan yang lainnya. Adiguna sebagai gambaran watak ular yang menyombongkan dirinya karena memiliki bisa/ racun yang ganas dan mematikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebagai orang Jawa yang sangat mementingkan watak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;andhap asor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;lemah lembut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (rendah hati), maka tidak selayaknya memiliki watak sombong dan angkuh tersebut. Dan sebagai manusia yang mengakui bahwa hidup memerlukan orang lain, maka seseorang harus menjauhi watak menyombongkan kekuatan, kebesaran tubuh, dan kewenangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tidak sepatutnya seseorang yang memiliki kekuatan/ kemampuan fisik berwatak seperti sombongnya kijang, dan memanfaatkan kekuatan itu untuk merugikan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Demikian pula halnya dengan orang yang memiliki tubuh yang besar, tidakan selayaknya meniru gambaran sombongnya gajah yang menggunakan kebesaran tubuhnya untuk memaksakan kehendak kepada yang kecil. Dan juga, tidak pada tempatnya seseorang yang memiliki kekuasaan sehingga ucapannya dijadikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;panutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; dan pedoman bagi orang lain, bawahan atau anak buahbersikap menyombongkan diri sebagaimana watak sombong dari binatang ular, yang bisa/ racunnya dapat mencelakai orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ungkapan adigang, adigung, adiguna merupakan peringatan kepada siapapun yang memiliki kelebihan (kekuatan, kedudukan atau kekuasaan) agar tidak bersikap sewenang-wenang terhadap orang lain, terutama terhadap orang kecil. Sebagai orang yang memiliki kekuatan, kedudukan, dan kekuasaan, ia seharusnya memahami bahwa semua hal tersebut adalah amanat yang harus diperankan dengan baik dan dijalankan seadil-adilnya. Kedudukan yang semakin tinggi, keluasan ilmu, dan kekuasaanyang semakin besar janganlah menjadikan kita semakin sombong di hadapan orang lain. Seseorang harus selalu menyadari bahwa kekuatan yang dimiliki, kedudukan yang dicapai, kekuasaan yang melekat pada dirinya sekedar pinjaman dimana yang meminjamkan semua itu tidak lain adalah masyarakat dan Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jika semua yang melekat pada diri kita telah diminta kembali oleh Yang Memberi Pinjaman (yakni masyarakat dan Tuhan), maka status kita akan kembali menjadi manusia biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642340470979620444-7470108640819269516?l=mutiarabudaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/feeds/7470108640819269516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/adigang-adigung-adiguna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/7470108640819269516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642340470979620444/posts/default/7470108640819269516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mutiarabudaya.blogspot.com/2009/02/adigang-adigung-adiguna.html' title='Adigang, Adigung, Adiguna'/><author><name>Edi Priyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08098733535657053673</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_VY1nrKbnOsc/SQBJ2hzmj6I/AAAAAAAAAAM/GpCoToC8hhQ/S220/Image006.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
